The Power of Values (1)

Sesungguhnya di awal karier, saya terjun ke pekerjaan yang linier dengan studi yang saya tempuh. Berbekal semangat idealisme dan bekal prinsip-prinsip yang ditanamkan orang tua, saya percaya diri memasuki dunia nyata a.k.a dunia kerja. Kalau diingat-ingat, belum banyak yang saya lakukan di pekerjaan pertama ini, alih-alih kerja banting otot dan otak, saya malah agak santai, dan hanya sekali atau dua kali terjun langsung menangani pekerjaan tersebut. Kalau mau mikir gabut, tidak ada alasan untuk segera cabut dari pekerjaan ini.

Namun ketika ada tawaran kerjaan baru, tanpa ba bi bu, langsung mengiyakan dan mengikuti proses seleksinya. Kalau diingat-ingat bisa jadi saat itu mikirnya, #kaburajadulu, yang penting kabur dari kerjaan lama.  Tapi setelah berpindah kerja, nyatanya sebelum masa kontrak berakhir, saya sudah mulai mikir-mikir dan memutuskan untuk mencoba peluang baru.

Sstttt…karena saya ini golongan gen X, yang namanya lowongan kerjaan pada masa itu bertaburannya di koran-koran. Jadi jangan heran kalau aktivitas yang saya lakukan adalah beli koran dan ngliatin tuh mana lowongan kerjaan yang match dengan spesifikasi yang saya miliki. Ada? Ada sih, tapi yang saya pilih justru industri dan jenis pekerjaan yang berbeda dengan pengalaman kerja, tidak ada salahnya mencoba, begitu sih mikirnya. Nyatanya, saya bertahan di industri ini, meski berbeda-beda korporasi, selama bertahun-tahun, hingga puluhan tahun setelahnya malahan, dengan aneka macam roles yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan latar belakang pendidikan yang sama.

Berawal dari frontliner sebagai customer service, saya selalu bilang ke diri sendiri: “Kamu bisa.” Padahal, dulu cita-cita SMA saya jadi ilmuwan atau peneliti, kerja di lab, sepi, tenang, nggak banyak interaksi. Lah kok malah jadi CS, bagian Complaint Service pula! What a twist…

Itu cuma cerita awal, betapa perjalanan karier itu pasti ada nano-nanonya, dari awalnya duduk adem di kantor (kadang-kadang gerah juga, kalau lagi numpuk pelanggan yang datang dan….komplain!) sampai gerah beneran karena mencoba peluang baru di bidang sales, yang harus turun langsung ke market. Apa pun jenis mutasinya, saya lahap dan jalani, kalau pun tidak bisa dibilang dengan senang hati, setidaknya dengan lapang hati. (eh, beda kan artinya, menurut saya beda, kalau penasaran yuk silakan buka KBBI atau AI, heheh)

Lalu, apa benang merah dari perjalanan itu? Value.
Kenapa? Karena setiap kita pasti punya nilai pribadi. Selama apa yang kita kerjakan sejalan dengan nilai itu, kita akan lebih termotivasi, lebih klik, lebih “nyaman”. Itulah the power of value.

Value adalah prinsip yang menjadi kompas dalam menentukan arah karier dan keputusan sehari-hari. Mengenal value kita akan membantu banyak hal, di antaranya:

  1. Memperjelas Arah Karier – Mengenali jenis pekerjaan yang sesuai, apakah fokus pada dampak, stabilitas finansial, atau ruang berkembang.
  2. Menentukan Prioritas – Tidak semua nilai bisa berjalan bareng. Mengetahui yang paling penting bikin kita tetap fokus.
  3. Menjadi Panduan dalam Keputusan – Nilai berperan sebagai kompas saat dilema, memengaruhi cara kita berpikir dan bertindak.
  4. Memahami Diri Lebih Dalam – Mengungkap apa yang non-negotiable, apa yang bikin puas, serta area yang bisa ditingkatkan.
  5. Menemukan Kecocokan dengan Perusahaan – Nilai pribadi yang selaras dengan budaya perusahaan bikin komitmen dan kepuasan kerja lebih tinggi.

Sumber inspirasi 

Dari pengalaman saya, salah satu value pribadi yang paling berpengaruh adalah self development. Itulah sebabnya, kalau ada pekerjaan yang memberi ruang untuk belajar hal baru, even yang sulit sekalipun, saya justru merasa nyaman. Tentu saja value ini nggak berdiri sendiri, tapi berjalan beriringan dengan core value lainnya.

Albert Einstein pernah berkata:

“Try not to become a man of success. Rather become a man of value.”

Artinya, kita tidak harus mengejar kesuksesan semata, jabatan tinggi, gaji besar, atau prestasi luar biasa. Yang lebih penting adalah bagaimana kita menjadi pribadi yang berpegang pada nilai, memberi manfaat, dan berdampak bagi orang lain. Karena pada akhirnya, value-lah yang membuat perjalanan karier terasa lebih bermakna.

Nah, sekarang giliran kamu. Apakah kamu sudah mengenal core value kamu? Jika kamu sedang berada di suatu persimpangan karier, core value apa yang akan membawamu ke arah karier yang sesuai dengan impianmu?

Kalau kamu ingin menggali lebih dalam tentang core value dan bagaimana mengaitkannya dengan perjalanan kariermu, sesi coaching 1:1 bisa jadi ruang yang tepat untuk mengeksplorasinya bersama.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *